Artikel ini membahas konsep pendidikan Ki Hajar Dewantara dalam penanaman nilai-nilai multikultural pada siswa Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) melalui kajian kepustakaan. Keragaman etnis, budaya, agama, dan bahasa di Indonesia menuntut adanya pendidikan yang mampu menumbuhkan sikap toleransi dan penghargaan terhadap perbedaan. Kajian menunjukkan bahwa Sistem Among dengan prinsip asah, asih, dan asuh relevan dalam membentuk kemampuan berpikir kritis, empati, dan sikap saling menghargai di lingkungan sekolah. Konsep Tri Pusat Pendidikan—keluarga, sekolah, dan masyarakat—menjadi dasar kolaborasi dalam pelestarian budaya dan internalisasi nilai multikultural. Selain itu, gagasan Merdeka Belajar memberikan ruang ekspresi budaya serta memperkuat pemahaman keberagaman melalui pembelajaran kontekstual. Peran guru sebagai pamong sangat penting dalam menuntun siswa melalui keteladanan dan pembentukan lingkungan belajar yang inklusif. Artikel ini menyimpulkan bahwa konsep pendidikan Ki Hajar Dewantara memiliki relevansi kuat dalam membangun karakter multikultural siswa SMK, terutama melalui pendekatan humanis, kolaboratif, dan berbasis kearifan lokal.
Copyrights © 2025