Penelitian ini bertujuan memahami kecemasan matematika pada anak 12 tahun dengan disabilitas ganda (tunarungu dan tunagrahita ringan) dari sudut pandang guru. Menggunakan pendekatan kualitatif dengan studi kasus, data dikumpulkan melalui wawancara semi-terstruktur dan telaah dokumen, seperti rencana pembelajaran dan catatan evaluasi. Analisis tematik mengungkap tiga pokok utama bentuk kecemasan, faktor penyebab, serta strategi pengatasan. Hasil menunjukkan bahwa kecemasan muncul dalam bentuk perilaku menghindar, ketegangan fisik, dan menurunnya motivasi belajar. Faktor penyebab yang dominan antara lain hambatan sensorik, keterbatasan kognitif, tekanan waktu, dan isolasi sosial. Untuk merespons kondisi tersebut, guru menerapkan berbagai strategi seperti penggunaan media visual, permainan edukatif, dan penguatan positif. Meski guru telah menerapkan strategi yang cukup efektif, kurangnya pelatihan dan minimnya sumber daya tetap menjadi hambatan. Temuan ini menekankan pentingnya pendekatan multisensori, pelatihan guru, dan dukungan memadai untuk memperkuat praktik pendidikan inklusif.
Copyrights © 2025