Autentisitas dalam hubungan romantis terkait dengan kepercayaan, keintiman, komitmen dan kepuasan, namun ekspresinya bergantung pada kondisi personal, diadik atau interpersonal, perkembangan, kognitif?perseptual dan sosiokultural. Studi ini meninjau secara sistematis riset empiris tentang faktor yang memfasilitasi atau menghambat keaslian berelasi dalam hubungan romantis. Mengikuti PRISMA, kami menelusuri enam basis data (Emerald Insight, ProQuest, SAGE Journals, ScienceDirect, Scopus, Taylor & Francis) untuk artikel berbahasa Inggris (2015–2025). Dari 4.589 rekaman, 15 studi memenuhi inklusi dan dianalisis secara tematik. Hasil mengelompok pada lima domain: (1) attachment, (2) emotional overinvestment, (3) personal vulnerability, (4) perceived partner authenticity, dan (5) budaya. Kesimpulannya adalah autentisitas kerap memediasi atau memoderasi keterkaitan atribut individual dengan kualitas relasi dan lebih tepat dipahami sebagai kompetensi relasional yang dapat dikembangkan ketimbang sifat kepribadian yang tetap. Temuan menyoroti sasaran praktik (IRT, UOD, reduksi self?concealment, pembiasaan unbiased processing) serta kebutuhan studi longitudinal lintas budaya dan harmonisasi alat ukur. Studi ini memperluas pemahaman autentisitas sebagai kompetensi relasional lintas budaya dan konteks psikososial modern.
Copyrights © 2025