Tradisi menenun pada masyarakat Sangga dahulu dilakukan oleh perempuan dari keluarga mapan. Perempuan dianggap kreatif apabila memiliki tenunan yang menjadi harta bawaannya saat memasuki rumah suaminya setelah menikah. Menenun bagi perempuan jaman dulu merupakan pekerjaan terhormat dan simbol kekuatan, kemandirian, kesabaran, keuletan serta kreatifitas. Sekarang menenun menjadi mata pencaharian bagi perempuan Sangga yang dapat memenuhi kebutuhan hidup dan pendidikan anak-anaknya. Tujuan Penelitian ini untuk menggambarkan penigkatan kemandirian ekonomi perempuan penenun berbasis pendekatan Kearifan Lokal Mbeca Wombo, mendeskripsikan cara perempuan penenun dalam mengelolah motif sarung yang menarik dan mengelolah hasil pendapatan dengan baik, mengatur pendapatan untuk mencukupi kebutuhan pendidikan anak-anak. Metode penelitian ini adalah Penelitian kualitatif dengan pendekatan studi Fenomenologi, penentuan informan dengan pengamatan mendalam, teknik penentuan informen secara Purposive Sampling. Data dianalisis dengan reduksi data, Penyajian data, verifikasi data, Trigulasi data. Peningkatan pendapatan perempuan dari hasil tenun dilakukan dengan kearifan lokal mbeca wombo yang mula-mula mengatur, mengelolah dan menata pemasukan, pengeluaran dengan baik sehingga dapat memenuhi kebutuhan keluargaa dan pendidikan anak. Penenun berinovasi dengan motif tradisional dan moderm agar menarik pembeli seperti motif garis, salungka motif fare, cori waji, salungka kabate, dan tembe pete menjadi motif khas sarungnya perempuan Sangga, sehingga pendapatannya semakin meningkat dan menjadikan perempuan mandiri secara ekonomi.
Copyrights © 2025