Era digital membawa tantangan serius bagi manajemen reputasi institusi akibat tingginya arus informasi yang rawan disinformasi. Penelitian ini menganalisis bagaimana cara UNESCO menangani hoaks yang melibatkan nama mereka dimana hoax tersebut menyebutkan bahwa lembaga tersebut memberikan penghargaan kepada selebritas Indonesia, Syahrini, pada Festival Film Cannes 2025. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode analisis konten terhadap klarifikasi resmi UNESCO dan pemberitaan media daring. Berdasarkan teori Two-Way Symmetrical Communication dan Situational Crisis Communication Theory (SCCT), ditemukan bahwa klarifikasi cepat, otoritatif, dan transparan menjadi strategi kunci UNESCO dalam menjaga reputasi. Studi ini menegaskan pentingnya respons krisis berbasis dialog terbuka dan pemanfaatan media digital sebagai kanal utama dalam komunikasi publik yang kredibel.
Copyrights © 2025