Digitalisasi penghimpunan zakat menghadapi tantangan utama berupa literasi digital yang masih rendah dan tingkat kepercayaan (trust) muzakki yang belum optimal, yang merupakan faktor kritis penentu kesuksesan transformasi digital sektor zakat. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif fenomenologi dengan data primer dari wawancara mendalam terhadap muzakki, pengelola BAZNAS/LAZ, dan praktisi perbankan syariah, serta observasi partisipatif, didukung data sekunder dari laporan keuangan, artikel jurnal, dan regulasi yang dianalisis dengan teknik analisis tematik model Braun dan Clarke. Hasil penelitian mengidentifikasi bahwa implementasi strategi digitalisasi (seperti QR Code, aplikasi, e-commerce) mampu meningkatkan efisiensi dan perluasan jangkauan, dengan faktor kunci pembangun kepercayaan muzakki adalah transparansi dan akuntabilitas pelaporan, keamanan sistem dan reputasi institusi, serta pengalaman pengguna (user experience) yang baik, yang berimplikasi signifikan terhadap optimalisasi penghimpunan zakat digital dan loyalitas jangka panjang. Disimpulkan bahwa strategi digitalisasi harus mengintegrasikan pendekatan berbasis kepercayaan yang memadukan aspek teknis, syariah, dan psikologis, sehingga diperlukan upaya berkelanjutan dalam meningkatkan transparansi, keamanan siber, edukasi, dan sosialisasi untuk membangun serta memelihara kepercayaan masyarakat..
Copyrights © 2025