Latar Belakang: Anemia pada ibu hamil masih menjadi masalah kesehatan masyarakat yang serius di negara berkembang, termasuk Indonesia. Meskipun Indonesia kaya akan sumber daya pangan, tingginya angka anemia disebabkan oleh pola makan rendah zat besi dan kebiasaan yang menghambat penyerapan zat besi, seperti konsumsi teh setelah makan Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara anemia pada ibu hamil dengan luaran kelahiran bayi di Kabupaten Tuban, Jawa Timur. Metode: Penelitian ini merupakan studi kasus-kontrol retrospektif berdasarkan data rekam medis 96 ibu nifas yang melahirkan pada Januari hingga April 2025. Kelompok kasus terdiri dari ibu dengan kadar hemoglobin <11 g/dL, dan kelompok kontrol dengan Hb ≥11 g/dL. Luaran yang diamati meliputi berat badan lahir rendah (BBLR), asfiksia neonatal, dan panjang badan bayi. Analisis dilakukan menggunakan uji Pearson. Hasil: Prevalensi anemia pada ibu hamil sebesar 50%. Terdapat hubungan yang signifikan antara anemia dengan kejadian BBLR (77,1%; p < 0,05) dan asfiksia neonatal (58,3%; p < 0,05). Namun, tidak ditemukan hubungan yang signifikan antara anemia dengan panjang badan bayi saat lahir (p = 0,813). Kesimpulan: Anemia pada ibu hamil, terutama pada trimester kedua dan ketiga, secara signifikan meningkatkan risiko BBLR dan asfiksia neonatus akibat hipoksia janin kronik. Diperlukan intervensi gizi, edukasi konsumsi makanan kaya zat besi, dan pemantauan kehamilan yang ketat untuk mencegah dampak buruk anemia terhadap ibu dan bayi.
Copyrights © 2025