Modernisasi irigasi merupakan upaya untuk meningkatkan efisiensi dan keberlanjutan sistem irigasi melalui pendekatan teknis, kelembagaan, dan pengelolaan. Penelitian ini bertujuan untuk menilai tingkat kesiapan modernisasi irigasi di dua daerah irigasi kewenangan pusat di Kabupaten Situbondo, yaitu Daerah Irigasi Sampean Baru dan Banyuputih, dengan menggunakan metode Fuzzy Analytical Hierarchy Process (FAHP) dan Simple Additive Weighting (SAW). Penilaian didasarkan pada lima pilar utama Indeks Kesiapan Modernisasi Irigasi (IKMI), yaitu ketersediaan air, infrastruktur irigasi, sistem pengelolaan, institusi pengelola, dan sumber daya manusia. Data diperoleh melalui kuesioner RAP (Rapid Appraisal Procedure) yang diolah dengan pendekatan berbasis logika fuzzy untuk mendapatkan bobot prioritas, kemudian dilakukan penilaian skor akhir menggunakan metode SAW. Hasil menunjukkan bahwa DI Sampean Baru memiliki nilai IKMI sebesar 80,24 dan tergolong paling siap dalam menghadapi modernisasi, sedangkan DI Banyuputih memiliki nilai IKMI sebesar 77,06 dan masih memerlukan perbaikan, terutama pada aspek ketersediaan air dan infrastruktur. Prioritas peningkatan difokuskan pada pilar infrastruktur irigasi di kedua daerah, serta peningkatan sarana penunjang untuk mendukung pengelolaan yang lebih efisien. Penelitian ini menegaskan pentingnya penilaian objektif dan terstruktur dalam merancang strategi modernisasi irigasi yang berkelanjutan.
Copyrights © 2026