Penelitian ini mengkaji Politik Simbolik dan Kekuasaan: Perebutan Kalompoang dan Intervensi Inggris Di Sulawesi Selatan 1812–1816, dengan tujuan memahami pola kolonialisme adaptif yang terbentuk melalui interaksi politik dan simbolik antara kekuatan kolonial dan elite lokal. Pendekatan historis-politik digunakan untuk menganalisis sumber arsip kolonial Inggris-Belanda serta naskah lontarak yang merekam konflik dan diplomasi antar-kerajaan. Metode analisis historis dan tematik diterapkan untuk mengidentifikasi struktur kekuasaan, strategi kolonial, serta makna simbolik Kalompoang sebagai sumber legitimasi politik. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kekuasaan Inggris bersifat oportunistik, memanfaatkan konflik lokal dan simbol adat untuk memperkuat pengaruhnya, namun gagal menciptakan stabilitas karena lemahnya pemahaman terhadap sistem sosial dan spiritual masyarakat Bugis-Makassar. Intervensi kolonial mempercepat transformasi ekonomi menuju perdagangan bebas, tetapi juga memicu fragmentasi sosial dan resistensi simbolik. Kesimpulannya, kekuasaan Inggris di Sulawesi Selatan merupakan bentuk kolonialisme negosiasional yang mencerminkan keseimbangan antara dominasi dan adaptasi. Studi ini menegaskan pentingnya analisis simbol dan budaya politik lokal dalam memahami dinamika kolonialisme di Indonesia Timur serta membuka ruang bagi kajian lanjutan tentang diplomasi adat dan ekonomi kolonial di wilayah maritim Nusantara.
Copyrights © 2025