Pelaksanaan tradisi Sego Jangkrik dalam prosesi Buka Luwur Sunan Kudus kini menghadapi tantangan empiris berupa pergeseran persepsi generasi muda yang memandangnya sekadar ritual pembagian makanan tanpa memahami filosofi mendalamnya. Penelitian ini bertujuan menganalisis integrasi nilai kearifan lokal dalam tradisi tersebut sebagai media dakwah kultural dan sarana pembentukan karakter. Menggunakan metode kualitatif dengan strategi etnografi terfokus, data dikumpulkan melalui wawancara mendalam, observasi digital, dan studi dokumentasi untuk menggali makna simbolik partisipan. Temuan menunjukkan bahwa Sego Jangkrik merupakan living value system yang memuat empat dimensi utama: nilai keagamaan, solidaritas sosial, pelestarian identitas budaya, dan nilai pendidikan yang relevan dengan pembelajaran IPS. Disimpulkan bahwa tradisi ini berfungsi vital sebagai perekat kohesi sosial dan identitas religius, yang mengimplikasikan perlunya strategi pelestarian berbasis edukasi dan dokumentasi formal untuk menjaga keberlanjutan makna simbolisnya di tengah arus modernitas.
Copyrights © 2025