Pembelajaran berbasis teknologi semakin berkembang di era digital, termasuk dalam Pendidikan Agama Kristen (PAK) yang menuntut proses pembentukan iman, karakter, dan kemandirian belajar siswa. Salah satu model pembelajaran yang relevan adalah hybrid learning, yaitu penggabungan pembelajaran tatap muka dan daring secara terstruktur. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan implementasi metode hybrid learning dalam pembelajaran PAK serta menganalisis pengaruhnya terhadap kemandirian belajar siswa pada jenjang pendidikan menengah. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif dengan teknik pengumpulan data berupa wawancara mendalam, observasi non-partisipatif, dan dokumentasi. Analisis data dilakukan melalui tahapan reduksi, penyajian, dan penarikan kesimpulan menggunakan model Miles, Huberman, dan Saldana. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pelaksanaan hybrid learning dalam PAK memberi ruang lebih luas bagi siswa untuk mengatur waktu belajar, mengakses materi secara mandiri, dan mengembangkan inisiatif dalam kegiatan refleksi rohani. Siswa menjadi lebih disiplin dalam mengerjakan tugas, lebih aktif mencari sumber rohani digital, serta menunjukkan peningkatan tanggung jawab akademik dan moral. Di sisi lain, penelitian juga menemukan beberapa tantangan, seperti keterbatasan akses teknologi, perbedaan tingkat motivasi belajar, dan berkurangnya interaksi sosial pada sesi daring. Meskipun demikian, peran guru PAK sebagai fasilitator digital, pembimbing spiritual, dan motivator menjadi faktor penting dalam keberhasilan hybrid learning. Secara keseluruhan, hybrid learning terbukti berkontribusi positif terhadap penguatan kemandirian belajar dan pembentukan karakter spiritual siswa.
Copyrights © 2025