Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis peran Huria Kristen Batak Protestan (HKBP) dalam merespons konflik lingkungan dan perampasan tanah adat oleh PT Toba Pulp Lestari (TPL), serta bagaimana sikap gereja mencerminkan praktik politik moral dalam konteks sosial dan budaya Batak. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif-deskriptif dengan teknik analisis isi terhadap dokumen institusional, berita, dan kajian terdahulu yang relevan. Data dianalisis dengan pendekatan teoritis dari Maslow, Giddens, Oliver, Fletcher, dan konsep disonansi institusional. Hasil penelitian menunjukkan bahwa HKBP mengalami dinamika sikap dari perlawanan terbuka, kooperasi pragmatis, hingga kebangkitan kembali suara profetik. Ketegangan antara pusat dan gereja lokal menjadi salah satu faktor utama yang memengaruhi efektivitas gerakan moral gereja. Penelitian ini menyimpulkan bahwa praktik politik moral HKBP mencerminkan interaksi kompleks antara struktur institusional, kebutuhan sosial-ekonomi, dan pertimbangan etis kontekstual. Temuan ini memberikan kontribusi pada kajian teologi publik dan menekankan pentingnya komunikasi partisipatif dalam menjaga konsistensi moral gereja di tengah tekanan kekuasaan dan ekonomi.
Copyrights © 2025