Abstrak —Tenun ikat dari Kecamatan Kelimutu, Nusa Tenggara Timur, merupakan warisan budaya bernilai tinggi yang menghadapi tantangan dalam pelestarian dan apresiasi, terutama karena kendala bahasa dan keterbatasan sarana edukasi. Untuk mengatasi hal tersebut, dikembangkan museum virtual Tenun Ikat berbasis metode Design Thinking yang meliputi tahapan Empathize, Define, Ideate, Prototype, dan Testing. Museum ini memuat informasi mengenai jenis kain, motif, alat tenun, dan sejarahnya, serta dirancang agar mudah diakses secara daring. Evaluasi sistem menggunakan User Experience Questionnaire (UEQ) menunjukkan skor tertinggi pada aspek Perspicuity (1,64) dan terendah pada Novelty (0,77). Hasil benchmarking UEQ menunjukkan sebagian besar aspek berada dalam kategori Above Average, dengan Efficiency berada di kategori Good. Secara keseluruhan, sistem dinilai mampu memberikan pengalaman pengguna yang positif dan efektif dalam mendukung pelestarian budaya tenun ikat. Kata kunci—Front End, Website, Design Thinking, User Experience, Tenun Ikat
Copyrights © 2025