Meningkatnya kebutuhan energi global dan ketergantungan pada baterai konvensional berbasis lithium-ion menimbulkan persoalan biaya, ketersediaan lithium–kobalt, dan dampak lingkungan, sehingga diperlukan solusi alternatif yang murah, ramah lingkungan, dan berbahan melimpah. Penelitian ini mengeksplorasi elektrolit alkali hasil elektrolisis air garam sebagai medium baterai dengan elektroda Fe+Cu dan Fe+Zn. Hasil uji menunjukkan konfigurasi Fe+Cu dalam larutan basa menghasilkan tegangan tertinggi, yaitu 0,96 V per sel, sedangkan Fe+Zn mencapai 0,62 V per sel. Sistem monitoring menggunakan INA219 dan ACS712 tervalidasi dengan galat rata-rata hanya 0,01 V dan 0,01 A. Uji tanpa beban memperlihatkan penurunan tegangan dari 9,64 V menjadi 6,40 V dalam 10 menit, sedangkan dengan beban 12 V, tegangan turun dari 7,62 V menjadi 6,61 V. Data tersebut menegaskan kelayakan awal baterai berbasis elektrolit alkali sebagai penyimpanan energi berskala kecil yang ekonomis dan lebih hijau, sambil membuka ruang optimalisasi material, geometri elektroda, dan manajemen resistansi internal, serta strategi kontrol proses elektrolisis lanjutan. Kata kunci— Baterai, elektrolit alkali, elektrolisis air garam, Fe+Cu, Fe+Zn, sensor INA219, Sensor ACS712
Copyrights © 2025