Pernikahan merupakan salah satu bagian dari tahap kehidupan manusia yang lazim terjadi. Inisiatif dari pernikahan ialah Allah sendiri. Dasar, tujuan, dan esensi dari pernikahan sesungguhnya telah jelas ditetapkan oleh Allah. Namun dalam kenyataannya, banyak penyimpangan yang terjadi. Kasus seperti seks di luar nikah, LGBT, Kumpul Kebo, poligami dan juga perceraian turut merusak dasar dan esensi dari pernikahan. Oleh karena itu, artikel ini ditulis guna memberikan sumbangsih bagi gereja dalam mempertegas dasar Alkitab tentang pernikahan kudus sekaligus mengkritisi penyimpangan-penyimpangan yang terjadi dalam pernikahan. Penulis menggunakan metode penelitian kepustakaan (library reaserch) dan pendekatan eksegesis guna menemukan makna yang utuh dari teks yang dikaji. Hasil dari penelitian ini ditemukan bahwa masa berpacaran merupakan momen yang indah yang seharusnya menjadi awal terbentuknya keluarga. Kemudian dalam berpacaran juga terdapat batasan keintiman serta seks harus dinikmati dalam ikatan pernikahan. Relevansi bagi pernikahan kudus yaitu pernikahan adalah hubungan yang dilakukan oleh pria dan wanita, penolakan akan hubungan seks di luar pernikahan, dan hubungan dan kehidupan suami-isteri harus didahului dengan upacara pernikahan yang resmi.
Copyrights © 2025