Airblast merupakan gelombang tekanan udara berlebih yang dihasilkan dari peledakan dan dapat menimbulkan gangguan lingkungan maupun kerusakan struktur di sekitar area tambang. Jumlah isian bahan peledak dan panjang stemming diidentifikasi sebagai variabel utama yang mempengaruhi intensitas airblast. Metode penelitian menggunakan pendekatan kuantitatif dengan data primer berupa geometri peledakan, jumlah isian bahan peledak, panjang stemming, jarak pengukuran, serta hasil pengukuran airblast menggunakan Micromate, dan data sekunder berupa peta serta informasi teknis lokasi penelitian. Analisis regresi linier berganda digunakan untuk mengetahui hubungan dan kontribusi masing-masing variabel terhadap nilai Sound Pressure Level (SPL) airblast. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kedua variabel tersebut berpengaruh signifikan terhadap besaran airblast. Peningkatan jumlah isian bahan peledak cenderung menaikkan nilai SPL, sedangkan peningkatan panjang stemming menurunkannya. Sebagian besar nilai SPL berada di bawah baku tingkat kebisingan SNI 7570:2010, namun terdapat beberapa kejadian yang melebihi batas rekomendasi sehingga diperlukan penyesuaian desain peledakan. Kesimpulannya, pengendalian airblast dapat dioptimalkan melalui pengaturan jumlah isian bahan peledak per lubang dan penerapan panjang stemming yang sesuai kondisi geologi setempat. Rekomendasi mencakup pengaturan powder factor serta penggunaan material stemming dengan kepadatan dan panjang optimal untuk meminimalkan dampak airblast.
Copyrights © 2025