Pembangunan Terusan Thailand merupakan wacana geopolitik transformatif yang berpotensi mengonfigurasi ulang arsitektur maritim Asia Tenggara, yang secara historis terpusat di Selat Malaka. Studi ini bertujuan menganalisis dampak strategis megaproyek tersebut terhadap posisi geoekonomi dan geopolitik Indonesia. Dengan pendekatan kualitatif berbasis tinjauan pustaka, penelitian ini mengadopsi dua kerangka teoretis: Teori Kekuatan Maritim (Mahan) dan Teori Mandala (Kautilya). Aplikasi Teori Mahan menunjukkan bahwa realisasi kanal ini akan menciptakan choke point buatan baru, secara langsung menantang hegemoni Selat Malaka dan Alur Laut Kepulauan Indonesia (ALKI) I. Konsekuensinya adalah potensi pergeseran rute perdagangan global yang dapat mengikis signifikansi strategis dan daya tawar diplomatik Indonesia. Sementara itu, analisis Mandala memetakan konstelasi kepentingan regional, mengidentifikasi Tiongkok sebagai Vijigishu (aktor sentral) yang berupaya memitigasi "Dilema Malaka", dan menempatkan Indonesia, Malaysia, serta Singapura sebagai Ari (rival) yang kepentingannya paling terdampak. Penelitian ini menyimpulkan bahwa Terusan Thailand bukan sekadar proyek infrastruktur, melainkan manuver geopolitik. Hal ini menuntut respons kebijakan adaptif dari Indonesia, termasuk penguatan rute maritim alternatif, peningkatan kesadaran domain maritim (MDA), dan diplomasi proaktif.
Copyrights © 2025