Kehadiran anak di sekolah merupakan indikator penting yang mencerminkan motivasi belajar sekaligus kesejahteraan emosional mereka. Berbagai penelitian menunjukkan bahwa rendahnya kehadiran kerap dipengaruhi oleh kondisi internal keluarga, terutama ketika anak berada dalam lingkungan disfungsional yang ditandai konflik orang tua, kekerasan, atau tekanan ekonomi. Artikel ini mengkaji pengaruh disfungsi keluarga terhadap motivasi kehadiran anak, memahami relasi antara keluarga, sekolah, dan perkembangan motivasi melalui perspektif filsafat pendidikan, serta menelaah bagaimana sekolah dapat menafsirkan ulang perannya dalam mendampingi anak yang kehilangan motivasi akibat dinamika keluarga. Menggunakan pendekatan integratif yang memadukan psikologi perkembangan, temuan empiris, dan kajian filsafat pendidikan, penelitian ini menegaskan pentingnya sekolah sebagai ruang aman yang memulihkan, mendukung, dan memberdayakan anak. Kajian ini menyimpulkan bahwa motivasi kehadiran tidak semata-mata persoalan kedisiplinan, tetapi refleksi dari pengalaman hidup anak. Karena itu, diperlukan sinergi berkelanjutan antara keluarga dan sekolah untuk memastikan perkembangan belajar yang optimal, inklusif, dan berkeadilan.
Copyrights © 2025