Tradisi Sayyang pattuqduq merupakan salah satu warisan budaya Mandar yang dilaksanakan sebagai bentuk perayaan khatam Al-Qur’an anak-anak, menggabungkan unsur agama, adat, dan ekspresi estetis. Penelitian ini bertujuan menganalisis oposisi semiotik dan simbolik dalam prosesi Sayyang pattuqduq menggunakan kerangka teori Julia Kristeva. Pendekatan kualitatif dengan metode etnografi budaya digunakan untuk mengumpulkan data melalui observasi langsung, dokumentasi visual, dan wawancara dengan tokoh adat serta pelaku tradisi. Hasil analisis menunjukkan bahwa unsur simbolik tampak melalui struktur prosesi, penggunaan busana adat, hiasan kuda yang merepresentasikan status sosial, serta aturan yang selaras dengan norma agama. Sementara itu, unsur semiotik hadir dalam gerak ritmis kuda, sorakan penonton, dan nyanyian yang mencerminkan luapan emosi kolektif masyarakat. Interaksi kedua unsur tersebut membentuk dialektika yang menjaga keseimbangan antara ekspresi kebebasan budaya dan pengukuhan identitas sosial-religius. Hasilnya menunjukkan bahwa Sayyang pattuqduq tidak hanya digunakan sebagai ritus perayaan, tetapi juga sebagai tempat untuk berbicara tentang makna. Nilai-nilai tradisional dikombinasikan dengan dinamika ekspresi kultural masyarakat Mandar.
Copyrights © 2025