Banjir besar pada Mei 2024 di Kabupaten Konawe Utara melumpuhkan fungsi Jalan Trans Sulawesi sebagai jalur arteri nasional, terutama akibat rendahnya elevasi jalan, sistem drainase yang tidak memadai, serta ketiadaan jalur alternatif. Penelitian ini bertujuan menganalisis ketahanan infrastruktur jalan pascabanjir dengan menggunakan kerangka robustness, redundancy, resourcefulness, dan rapidity [1]. Metode penelitian berbasis analisis data sekunder dan studi literatur terhadap kondisi fungsional, kerentanan, dan strategi pemulihan infrastruktur. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ketahanan Jalan Trans Sulawesi masih parsial: meskipun pemulihan berlangsung relatif cepat, kelemahan struktural pada aspek robustness dan redundancy meningkatkan risiko sistemik saat bencana berulang. Rekomendasi mitigasi meliputi peninggian badan jalan, perbaikan drainase, pembangunan jalur alternatif, penyediaan transportasi darurat yang aman, serta integrasi pengurangan risiko ke dalam RTRW dan SOP pemulihan. Temuan ini diharapkan dapat menjadi masukan praktis bagi kebijakan penguatan ketahanan infrastruktur transportasi nasional. Keterbaruan penelitian ini terletak pada analisis kasus tunggal banjir 2024 yang menekankan dimensi fungsional dan kerentanan Jalan Trans Sulawesi sebagai jalur arteri lintas provinsi.
Copyrights © 2025