Tuberkulosis paru masih menjadi masalah kesehatan masyarakat yang signifikan di Indonesia, ditandai dengan angka kejadian yang tinggi dan keberhasilan pengobatan yang bervariasi yang dipengaruhi oleh berbagai faktor, termasuk penerapan farmakoterapi. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi penggunaan farmakoterapi pada pasien tuberkulosis paru di Rumah Sakit Umum Daerah Provinsi Gorontalo. Penelitian ini menggunakan desain deskriptif observasional retrospektif, dengan fokus pada studi kasus pasien laki-laki berusia 55 tahun yang dirawat pada bulan Januari 2025. Data dikumpulkan dari rekam medis pasien, termasuk tanda-tanda vital, hasil pemeriksaan laboratorium dan radiologi, dan regimen terapi yang diberikan. Temuan menunjukkan bahwa terapi awal difokuskan pada stabilisasi kondisi pasien dengan pemberian mukolitik, antibiotik, dan agen hemostatik, sebelum memulai pengobatan antituberkulosis (OAT). Evaluasi mengungkapkan bahwa regimen terapi sesuai dengan pedoman nasional dan rekomendasi WHO; namun, beberapa potensi Masalah Terkait Obat (DRP) diidentifikasi, seperti indikasi tanpa terapi untuk manajemen nyeri dan potensi hepatotoksisitas karena interaksi antara rifampisin dan pirazinamid. Sebagai kesimpulan, penelitian ini menggarisbawahi pentingnya pemantauan terapi yang komprehensif, termasuk penilaian efek samping dan potensi interaksi obat, untuk meningkatkan keberhasilan pengobatan tuberkulosis paru di fasilitas perawatan kesehatan regional.
Copyrights © 2025