Kecacingan masih menjadi salah satu masalah kesehatan masyarakat di Indonesia, khususnya pada anak usia sekolah dasar. Infeksi cacing usus dapat menimbulkan dampak jangka panjang berupa gizi buruk, anemia, dan gangguan konsentrasi belajar. Berbagai faktor risiko seperti kondisi tempat tinggal, sanitasi lingkungan, dan ketersediaan jamban diduga berperan dalam tingginya angka kejadian kecacingan. Sebuah studi terbaru di Indonesia melaporkan bahwa prevalensi kecacingan pada anak mencapai 30,5% dengan 67,2% terinfeksi oleh lebih dari satu jenis parasit usus. Spesies utama yang menginfeksi manusia antara lain cacing gelang (Ascaris lumbricoides), cacing cambuk (Trichuris trichiura), dan cacing tambang (Necator americanus dan Ancylostoma duodenale). Tujuan penelitian ini bertujuan untuk menganalisis faktor risiko yang berhubungan dengan kejadian kecacingan pada siswa Sekolah Dasar Negeri 10 Kota Lhokseumawe. Metode penelitian ini menggunakan desain analitik dengan pendekatan potong lintang (cross-sectional). Sampel penelitian adalah siswa kelas III–V yang dipilih secara purposive. Hasil penelitian menunjukkan bahwa faktor yang berhubungan secara signifikan dengan kejadian kecacingan adalah kondisi tempat tinggal yang tidak memenuhi syarat kesehatan (p < 0,05), sanitasi lingkungan yang buruk (p < 0,01), dan tidak tersedianya jamban sehat (p < 0,01). Faktor yang paling dominan berhubungan dengan kejadian kecacingan adalah ketersediaan jamban sehat dengan nilai Odds Ratio (OR) tertinggi. Kesimpulan penelitian ini kondisi tempat tinggal, sanitasi lingkungan dan ketersediaan jamban merupakan faktor risiko yang berhubungan dengan kejadian kecacingan pada siswa SDN 10 Kota Lhokseumawe. Disarankan adanya peningkatan program perbaikan sanitasi dasar, penyediaan jamban sehat, serta edukasi Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) bagi siswa dan keluarga.
Copyrights © 2025