Industri tekstil Indonesia menghadapi tekanan besar akibat persaingan global dan volatilitas pasar, seperti terlihat dari kepailitan PT Sri Rejeki Isman Tbk (Sritex). Kegagalan ini menunjukkan lemahnya manajemen risiko yang berdampak sistemik pada ekonomi nasional, disebabkan oleh kelemahan internal dalam tata kelola risiko strategis, finansial, dan operasional yang tidak sesuai standar internasional. Penelitian ini bertujuan menganalisis penyebab kegagalan manajemen risiko keuangan di Sritex dengan menggunakan kerangka ISO 31000:2018. Metode yang dipakai adalah kualitatif-deskriptif melalui studi kasus, memanfaatkan data sekunder seperti laporan keuangan 2019-2023, putusan Pengadilan Niaga, serta publikasi terkait. Analisis dokumentasi dan literatur digunakan untuk menginterpretasi penerapan ISO 31000. Hasil menunjukkan kegagalan sistemik meliputi ekspansi agresif dengan pembiayaan utang tinggi, akumulasi utang valuta asing tanpa strategi lindung nilai memadai, serta rendahnya komitmen kepemimpinan terhadap manajemen risiko. Dampaknya terlihat pada merosotnya likuiditas, dengan Current Ratio turun drastis dari 4,90 pada 2019 menjadi 0,37 pada 2021, dan ketidakmampuan mengelola risiko operasional di masa pandem.
Copyrights © 2025