Studi ini bertujuan untuk menganalisis persepsi penonton Indonesia di Denpasar mengenai strategi pemasaran fanservice dalam series Boy's Love (BL) Thailand dan mengukur efektivitasnya dalam memengaruhi keterlibatan dan perilaku konsumsi penonton. Industri BL Thailand menonjol karena praktik layanan penggemar, termasuk interaksi intim antara aktor di dalam dan di luar layar, yang dirancang untuk membangun kedekatan emosional dan loyalitas di tengah sensitivitas budaya Indonesia terhadap konten LGBTQ+. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan studi kasus di Denpasar, Bali. Teknik pengumpulan data dilakukan melalui wawancara mendalam dengan delapan informan kunci yang dipilih melalui pengambilan sampel bertujuan, terdiri dari penonton, fandom, praktisi, dan pembuat konten, hingga mencapai kejenuhan data. Hasil penelitian menunjukkan bahwa fanservice diimplementasikan sebagai model Integrated Marketing Communication (IMC) yang direncanakan secara profesional dan terintegrasi di berbagai platform digital. Strategi ini telah terbukti efektif dalam menciptakan keterikatan emosional yang kuat terhadap merek dan mendorong perilaku pembelian (merchandise, tiket, dukungan) di kalangan penggemar. Selain itu, fanservice berfungsi sebagai katalisator pembentukan komunitas penggemar yang aktif, berkontribusi pada Word-of-Mouth digital dan ekonomi yang digerakkan oleh penggemar. Namun, intensitas layanan penggemar juga menimbulkan risiko seperti fanatisme berlebihan, konflik internal dalam fandom, dan masalah etika terkait tekanan profesional pada aktor. Temuan ini menyimpulkan bahwa fanservice adalah strategi pemasaran multidimensi yang sangat efektif secara komersial, tetapi membutuhkan batasan etika dan manajemen profesional untuk mengurangi risiko sosial dan psikologis yang ditimbulkannya.
Copyrights © 2026