Literasi lingkungan sebagai infrastruktur publik diperlukan untuk memperkuat kapasitas adaptasi dan mitigasi perubahan iklim. Studi ini menganalisis perspektif pemuda Indonesia khususnya dari daerah Kalimantan Tengah dan Nusa Tenggara Timur, dalam upaya memahami tingkat pengetahuan, sikap kritis, serta preferensi aksi dan kesiapan mereka dalam mendukung literasi iklim. Penelitian dilakukan dengan metode Survei kuantitatif–kualitatif (kuesioner online, n = 222). Analisis kuantitatif dilakukan dengan frekuensi dan persentase, dengan jawaban terbuka dianalisis secara tematik untuk mengekstrak gagasan aksi dan narasi lokal. Hasil penelitian menunjukkan: Responden mayoritas perempuan (52.3%) dan kelompok usia dominan 19–24 tahun (63.5%); 74.8% tinggal di lingkungan perkotaan. Dampak yang paling dirasakan adalah kebakaran hutan dan lahan (37.1%), banjir dan kenaikan muka iar laut (33,5%), kekeringan/gagal panen (14.5%), dan sisanya melaporkan beberapa dampak spesifik. Hambatan utama keterlibatan pemuda adalah rendahnya motivasi probasi (53.2%) dan keterbatasan akses informasi ilmiah (34,5%) dan kurangnya dukungan komunitas. Sumber informasi yang paling dipercaya meliputi institusi resmi dan publikasi ilmiah (63.5%); media sosial, aplikasi iklim khusus dan platform pembelajaran digital (Google Classroom, Moodle, dll) banyak digunakan namun akses dan konten kontekstual menjadi kendala. Responden merekomendasikan aksi lingkungan di komunitas, kombinasi edukasi dan kampanye publik, dan advokasi kebijakan berbasis riset. Untuk menjadikan literasi lingkungan sebagai infrastruktur publik efektif diperlukan intervensi kebijakan, penguatan kapasitas lokal, pengembangan aplikasi digital kontekstual, dan ruang partisipasi pemuda dalam perencanaan kebijakan.
Copyrights © 2025