Generasi Z (lahir 1997-2012) cenderung lebih tertarik pada hiburan daripada politik konvensional, namun mereka memiliki potensi besar untuk berperan dalam politik melalui media sosial, seperti Instagram dan TikTok. Berdasarkan temuan penelitian dengan menggunakan metode analisis resepsi Stuart Hall, mayoritas generasi Z menempati posisi negotiated reading. Hal ini menunjukkan bahwa audiens tidak menerima pesan media secara pasif, melainkan aktif dalam membentuk makna berdasarkan refleksi pribadi, latar belakang pendidikan, dan lingkungan sosial. Dalam konteks media sosial, Generasi Z menunjukkan kesadaran pada algoritma yang membentuk filter bubble dan echo chamber, sehingga mereka cenderung lebih waspada terhadap konten politik yang viral. Mayoritas informan menyatakan pentingnya verifikasi informasi dan pencarian sudut pandang alternatif. Faktor-faktor seperti latar belakang keluarga, pendidikan, dan diskusi dengan teman sebaya juga terbukti memengaruhi cara mahasiswa menafsirkan pesan politik. Mereka yang berasal dari keluarga yang terbiasa berdiskusi politik, serta memiliki pendidikan di bidang komunikasi, cenderung memiliki kemampuan berpikir kritis yang lebih tinggi. Perbedaan gender dalam partisipasi politik juga terjadi, pada informan laki-laki lebih aktif dalam perdebatan, kritis, dan condong menolak konten politik yang tidak faktual. Mereka menggunakan media sosial sebagai “arena diskusi politik”. Informan Perempuan lebih selektif, reflektif, dan fokus pada isu yang dekat dengan kehidupan sehari-hari. Media sosial bagi mereka bukan hanya sumber informasi, tetapi juga ruang validasi dari komunitas atau kelompok.
Copyrights © 2025