Identitas sosial berperan krusial dalam pembentukan karakter individu dan komunitas di Indonesia, khususnya dalam pendidikan agama. Organisasi Islam seperti Nahdlatul Ulama (NU) dan Muhammadiyah memiliki pendekatan yang berbeda; NU lebih tradisional, sedangkan Muhammadiyah modern dan rasional. Interaksi antar guru dari kedua organisasi ini kadang menimbulkan dinamika, termasuk kolaborasi dan konflik ideologi. Penelitian di SMA/SMK Muhammadiyah Se- Kec Lamongan bertujuan memahami dilema identitas yang dihadapi guru NU yang mengajar di sekolah Muhammadiyah. Metode yang digunakan adalah studi kasus dengan pendekatan kualitatif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa proses menjadi guru NU di Muhammadiyah dimulai dari informasi lowongan kerja, meskipun ada keraguan awal. Sebagian guru terbuka tentang identitas NU, sementara yang lain menyembunyikannya. Mereka membangun keakraban melalui dialog, walaupun begitu dilemma identitas tetap ada, Guru NU juga memiliki beberapa batasan untuk mempertahankan identitas atau beradaptasi dengan guru Muhammadiyah. Faktor motivasi pribadi, dukungan keluarga, dan kejujuran terhadap lingkungan kerja berperan dalam keputusan mereka. Sebagian guru tetap mempertahankan identitas NU, sementara yang lainnya beralih ke Muhammadiyah, meski masih menjalankan praktik NU secara pribadi.
Copyrights © 2025