Konflik perbatasan Thailand–Kamboja terkait kawasan Kuil Preah Vihear merupakan salah satu sengketa teritorial paling menonjol di Asia Tenggara dan menjadi ujian penting bagi ASEAN sebagai organisasi regional dalam mengelola konflik secara damai sesuai Piagam ASEAN dan Treaty of Amity and Cooperation (TAC). Penelitian ini bertujuan menganalisis efektivitas peran ASEAN dalam resolusi konflik tersebut serta mengidentifikasi tantangan yang dihadapi organisasi dalam menjembatani kedua negara anggotanya. Menggunakan metode kualitatif deskriptif dan analisis dokumen, hasil penelitian menunjukkan bahwa ASEAN berperan dalam mencegah eskalasi militer melalui diplomasi gencatan senjata, shuttle diplomacy, dan mediasi informal. Namun, efektivitas ASEAN terbatas oleh prinsip konsensus, non-interference, dan ketiadaan mekanisme penegakan keputusan yang mengikat. Temuan ini menunjukkan bahwa ASEAN berada pada persimpangan strategis antara mempertahankan ASEAN Way yang fleksibel namun lemah secara institusional, atau membangun mekanisme penyelesaian sengketa yang lebih kuat dan formal untuk memperkuat stabilitas kawasan.
Copyrights © 2025