Penelitian ini mengkaji persepsi politik perempuan Kalampangan terhadap kerusakan gambut serta bentuk eksklusi yang mereka alami dalam kebijakan pengelolaan gambut. Dengan menggunakan metode kualitatif fenomenologi dan teori demokrasi agonistik Chantal Mouffe, penelitian ini menelusuri pengalaman hidup perempuan terkait perubahan ekologis seperti banjir, kekeringan, dan risiko kebakaran yang dipicu oleh ekspansi kelapa sawit serta oleh kebijakan dan program pengelolaan gambut yang mengeksklusikan perempuan. Data dikumpulkan melalui wawancara mendalam terhadap 19 informan perempuan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perempuan memaknai kerusakan gambut sebagai persoalan politik-ekologis yang dibentuk oleh relasi kuasa hegemonik antara aktor dominan, terutama perusahaan sawit dan elit lokal (pemerintah, pembuat proyek lingkungan, dan elit dominan dalam kegiatan perempuan di tingkat Kelurahan). Meskipun memiliki pengetahuan ekologis yang mendalam, perempuan tidak dilibatkan dalam diskusi kebijakan strategis dan hanya terlibat dalam kegiatan domestik. Studi ini menyimpulkan bahwa demokrasi lokal belum menyediakan ruang agonistik bagi perempuan sebagai aktor politik yang sah. Temuan ini menegaskan pentingnya tata kelola gambut yang inklusif dan responsif gender serta mengakui pengalaman dan pengetahuan perempuan.
Copyrights © 2025