Makam Ki Ageng Singoprono di Sambi, Boyolali, berperan penting dalam proses Islamisasi Jawa abad ke-17 melalui dakwah sufistik-agraris. Artikel ini menganalisis makna historis dan nilai religius makam tersebut serta menelaah perannya dalam kehidupan masyarakat lokal. Penelitian menggunakan metode kualitatif deskriptif dengan teknik pengumpulan data wawancara, observasi, dan dokumentasi. Data dianalisis menggunakan teori interaksionisme simbolik dan fungsionalisme struktural untuk mengungkap dimensi simbolik sekaligus fungsional keberadaan makam dalam struktur sosial. Hasil penelitian menunjukkan bahwa makam Ki Ageng Singoprono tidak hanya berfungsi sebagai situs sejarah yang merekam jejak Islamisasi Jawa, tetapi juga berkembang menjadi pusat spiritual, sosial, dan budaya. Fungsi tersebut tercermin melalui pelaksanaan tradisi keagamaan seperti haul, ziarah, kenduri, dan doa bersama yang dijaga masyarakat setempat. Tradisi ini memperkuat nilai religius, membangun kohesi sosial, dan melestarikan identitas budaya Islam Jawa. Dengan demikian, makam ini merepresentasikan warisan Islam Jawa yang dinamis, sekaligus ruang simbolik yang mempertautkan sejarah, religiusitas, dan identitas masyarakat Sambi.
Copyrights © 2025