Pascapandemi, banyak organisasi mengadopsi skema flexible working (fleksibilitas waktu dan/atau lokasi kerja). Penelitian ini menganalisis dampak flexible working terhadap produktivitas dan kepuasan kerja, serta menilai peran work-life balance (WLB) sebagai mediator dan dukungan manajerial sebagai moderator. Menggunakan survei lintas-seksi (data simulasi) pada 312 karyawan di berbagai sektor di Indonesia, dilakukan analisis reliabilitas, validitas, regresi, moderasi, dan mediasi. Hasil menunjukkan efek positif dan signifikan flexible working terhadap produktivitas (β=0,28; p<0,001) dan kepuasan kerja (β=0,35; p<0,001). WLB memediasi sebagian hubungan tersebut, sementara dukungan manajerial memperkuat efek flexible working terhadap produktivitas. Implikasi praktis meliputi desain kebijakan hybrid berorientasi hasil, pelatihan manajer, dan metrik produktivitas berbasis output.
Copyrights © 2025