Penelitian ini menelusuri berbagai faktor yang mendukung maupun menghambat pelaksanaan pemberian ASI eksklusif oleh ibu menyusui di Kabupaten Wajo dengan menggunakan pendekatan epistemologis dan hermeneutik. Pendekatan ini bertujuan menggali bagaimana pengetahuan mengenai ASI eksklusif terbentuk dan dimaknai oleh para partisipan melalui pengalaman pribadi, nilai-nilai budaya, serta hubungan sosial. Temuan menunjukkan bahwa pemahaman ibu tentang ASI eksklusif tidak hanya bergantung pada pendidikan formal, tetapi lebih banyak dipengaruhi oleh interaksi sosial dan makna-makna simbolik dalam budaya setempat. Melalui lensa hermeneutika, praktik seperti larangan keluar rumah selam 40 hari setelah melahirkan dipahami sebagai ekspresi pengetahuan lokal yang merekatkan tubuh, makna, dan budaya. Mereka percaya bahwa ibu nifas perlu istirahat yang cukup dan menghindari aktivitas berat. Hal ini bertujuan untuk membantu pemulihan tubuh ibu dan memastikan produksi ASI yang cukup untuk bayi. Oleh karena itu, penelitian ini merekomendasikan pentingnya promosi kesehatan yang berlandaskan budaya dan mengedepankan dialog, bukan hanya menggunakan pendekatan teknokratis-biomedis
Copyrights © 2025