Penelitian ini membahas efektivitas infrastruktur pengendalian banjir di Jakarta serta tantangan ketahanan wilayah dalam menghadapi risiko banjir yang semakin meningkat akibat perubahan iklim, urbanisasi, dan penurunan muka tanah. Meskipun pemerintah pusat dan daerah telah membangun sejumlah infrastruktur seperti Sodetan Ciliwung, Bendungan Ciawi–Sukamahi, Kanal Banjir Timur, sistem polder, pompa air, dan penguatan garis pantai, efektivitasnya belum optimal dalam mereduksi risiko banjir secara menyeluruh. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif kualitatif untuk menggambarkan kondisi aktual pengelolaan banjir, mengidentifikasi permasalahan infrastruktur, serta menganalisis faktor-faktor kelembagaan, kebijakan, dan tata kelola multi-level governance yang mempengaruhi implementasinya. Hasil kajian menunjukkan bahwa tantangan utama meliputi keterbatasan kapasitas infrastruktur, ketidakseimbangan daya tampung air, penurunan muka tanah, banjir rob, keterlambatan proyek NCICD dan GSW, serta lemahnya koordinasi antar lembaga. Oleh karena itu, diperlukan strategi pengendalian banjir yang lebih holistik dan terintegrasi, meliputi peningkatan kapasitas infrastruktur, penguatan kelembagaan lintas sektor, inovasi pembiayaan, pemanfaatan teknologi, optimalisasi tata ruang, serta partisipasi aktif masyarakat. Dengan pendekatan tersebut, pengendalian banjir di Jakarta diharapkan dapat menjadi lebih adaptif, berkelanjutan, dan tangguh terhadap tantangan iklim di masa mendatang.
Copyrights © 2025