Peningkatan aktivitas pada sistem transportasi berdampak pada bertambahnya permasalahan lalu lintas, salah satunya kemacetan pada simpang bersinyal. Salah satu lokasi yang mengalami permasalahan tersebut adalah simpang Jl Gusti Situt Mahmud – 28 Oktober – Selat Panjang – Sultan Hamid II Pontianak Utara. Rumusan masalah dalam penelitian ini adalah bagaimana kinerja simpang kondisi eksisting dan apakah perubahan tipe simpang dari bersinyal menjadi bundaran dapat meningkatkan kinerja lalu lintas pada kondisi sekarang dan proyeksi lima tahun mendatang. Metode analisis menggunakan Pedoman Kapasitas Jalan Indonesia (PKJI) 2023 dan pemodelan mikrosimulasi menggunakan software PTV VISSIM. Data yang dikumpulkan meliputi geometrik simpang, volume lalu lintas, kecepatan kendaraan, dan waktu siklus sinyal yang direkam pada 3–4 Maret 2024. Hasil analisis menunjukkan bahwa pada jam puncak (4 Maret 2024, pukul 16.00–17.00 WIB), simpang bersinyal memiliki derajat kejenuhan tertinggi 1,41 pada lengan Jl. Gusti Situt Mahmud dengan tingkat pelayanan (LOS) F, dan meningkat menjadi 1,96 pada proyeksi lima tahun. Sementara itu, alternatif bundaran menunjukkan derajat kejenuhan 0,785 pada kondisi eksisting dan 0,960 pada proyeksi lima tahun dengan LOS A. Kesimpulannya, konversi simpang bersinyal menjadi bundaran terbukti mampu meningkatkan kinerja lalu lintas secara signifikan pada kondisi saat ini maupun masa mendatang. Kata Kunci: bundaran, PKJI 2023, PTV VISSIM, simpang APILL
Copyrights © 2025