Hipertensi derajat 2 merupakan faktor risiko penting dalam komplikasi kardiovaskular dan perlu mendapat penanganan yang adekuat. Obat tradisional banyak digunakan oleh masyarakat untuk menurunkan tekanan darah. Penelitian ini berfokus untuk menggambarkan penggunaan obat tradisional pada peserta posyandu lansia yang telah terdiagnosis hipertensi derajat 2. Penelitian observasional (survey) dengan desain cross sectional, dilakukan di tiga posyandu di wilayah suatu Puskesmas di kabupaten Bantul provinsi Yogyakarta. Dengan metode concecutive sampling, wawancara dilakukan pada responden yang memenuhi kriteria: peserta posyandu lansia, terdiagnosis hipertensi derajat 2 dan bersedia mengikuti penelitian. Data dianalisis secara deskriptif. Wawancara dilakukan pada 108 pasien, rata-rata usia 67.2 ± 9 (rentang 45-90 tahun). Sebagian besar pasien (86,1%) merespon “Ya” pada pertanyaan “apakah dalam 30 hari terakhir Anda menggunakan obat tradisional untuk menurunkan tekanan darah?”. Konsumsi Cucumis sativus/mentimun dilaporkan oleh 66,7% pasien (dimakan langsung, diparut atau dibuat jus), dan dianggap paling efektif menurunkan tekanan darah, diikuti oleh Citrullus lanatus/semangka (39,8%) dan beberapa buah/sayur lain. Persentase penggunaan jamu/herbal (buatan sendiri, racikan maupun kemasan) adalah 44,4%. Bahan jamu rumah tangga banyak didapat dari kebun meliputi daun seledri, daun salam, kunyit, temuireng, daun pepaya, daun alpukat. Konsumsi obat tradisional dilakukan dengan durasi rata-rata 5,5 ± 0.8 hari dalam 30 hari terakhir. Sebagian besar pasien mendapatkan informasi tentang obat tradisional tersebut dari kebiasaan setempat yang dipercaya turun menurun. Penelitian ini menunjukkan sebagian besar pasien hipertensi derajat 2 menggunakan obat tradisional terutama tanaman buah/sayur dan jamu. Tenaga kesehatan perlu menggali riwayat penggunaan dan persepsi pasien mengenai obat tradisional untuk mendukung manajemen hipertensi yang adekuat dan mengurangi risiko komplikasi kardiovaskular,
Copyrights © 2025