Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis percakapan antara Rhoma Irama, Armand Maulana, dan Ariel Noah dalam kanal YouTube Bisikan Rhoma dengan menggunakan pendekatan Analisis Wacana Kritis Norman Fairclough. Analisis ini mencakup tiga dimensi: teks, praktik diskursif, dan praktik sosial. Pada dimensi teks, ditemukan bahwa setiap tokoh menggunakan diksi yang mencerminkan posisi dan ideologi masing-masing: Rhoma Irama bersikap demokratis, Armand Maulana menunjukkan kegelisahan, dan Ariel Noah menawarkan solusi. Dimensi praktik diskursif menunjukkan bagaimana wacana ini diproduksi di forum publik, didistribusikan melalui media digital, dan dikonsumsi oleh masyarakat luas, khususnya pelaku industri musik. Sementara itu, dimensi praktik sosial mengungkap ketimpangan relasi kuasa antara pencipta lagu dan penyanyi serta perlunya reformasi hukum hak cipta di Indonesia. Penelitian ini menyimpulkan bahwa wacana yang terbentuk tidak hanya merefleksikan konflik internal industri musik, tetapi juga menjadi instrumen untuk mendorong perubahan sosial yang lebih adil dan sistemik.
Copyrights © 2025