Filler merupakan bahan pengisi rongga yang lolos ayakan no.200, dimana bahan alternatif yang bisa digunakan adalah memanfaatkan limbah yang terbuang. Salah satu penggunaan limbah terbuang yaitu daun bambu yang merupakan limbah organik dan limbah yang memiliki kandungan silika dan zat kimia kedua setelah abu sekam padi. Lateks merupakan getah cair pohon Hevea Brasiliensis yang berwarna putih seperti susu, dan memiliki sifat koloid, Fasa terurai pada Lateks berupa molekul hidrokarbon. Penelitian ini melibatkan campuran filler abu daun bambu dengan variasi (0%, 50%, dan 100%), dan campuran aspal cair AC – WC dengan variasi Lateks (0%, 1%, 3%, 5% dan 7%) dilakukan dengan metode Marshall Test. Hasil penelitian ini memperoleh nilai kadar aspal optimum sebesar 5,4% dan filler abu daun bambu sebesar 100%. Dalam penelitian ini semakin besar penambahan persentase dari lateks, maka nilai VMA dan VIM mengalami kenaikan dan penurunan, penurunan terjadi pada persentase 5% dan 7%. Pada nilai Stabilitas dan MQ mengalamai penurunan dan kenaikan, kenaikan terjadi pada persentase 5% dan 7%. Pada nilai VFA mengalami penurunan pada persentase 1% dan mengalami kenaikan pada persentase 3%,5%, dan 7%. Pada nilai Flow mengalami kenaikan. Variasi Lateks 0%,1%,3%,5%, dan 7% dengan Filler abu daun bambu variasi 100% memenuhi spesifikasi bina marga 2025.
Copyrights © 2025