Pesatnya pembangunan di kota-kota besar dan pertumbuhan penduduk di Indonesia telah memicu arus urbanisasi dan migrasi yang signifikan, terutama di wilayah Jabodetabek serta meluas ke Kab. Karawang, Kab. Bandung, dan Kab. Bandung Barat. Sebanyak 14,9% dari 29,6 juta penduduk usia kerja di Jabodetabek merupakan komuter pada tahun 2023, dan ketiga kabupaten tersebut tercatat sebagai wilayah dengan arus migrasi masuk tertinggi di Jawa Barat tahun 2022. Kondisi ini dapat mendorong pertumbuhan ekonomi namun juga meningkatkan risiko kemacetan. Kehadiran Kereta Cepat Jakarta–Bandung diharapkan menjadi solusi, dengan target menyerap 11% dari 256 ribu pergerakan kendaraan pribadi. Penelitian ini bertujuan mengestimasi jumlah pengguna Kereta Cepat pada tahun 2028 melalui analisis Matriks Asal-Tujuan (MAT) model gravitasi serta menganalisis cakupan pelayanan dan potensi kunjungan ke Stasiun Kereta Cepat Karawang menggunakan metode service area dan market share berbasis GIS. Hasil menunjukkan estimasi jumlah pengguna mencapai 96,7 juta orang/tahun atau 268.670 orang/hari, melampaui target 30.000 orang/hari. Pergerakan terbanyak berasal dari Kota Jakarta Timur, sedangkan kunjungan ke Stasiun Kereta Cepat di Kab. Karawang paling banyak berasal dari Kota Jakarta Timur, Kab. Bandung Barat, dan Kab. Bandung. Cakupan pelayanan Stasiun Karawang mencakup area inti TOD (0,5–1 km) dan area luar TOD (hingga 5 km), dengan potensi kunjungan tertinggi berasal dari wilayah tengah Kab. Karawang.
Copyrights © 2025