Manajemen waktu merupakan aspek krusial dalam kesuksesan proyek konstruksi, terutama dalam menghadapi dinamika pelaksanaan yang kerap berubah. Salah satu tantangan utama adalah menyediakan estimasi penyelesaian proyek yang akurat dan responsif terhadap perkembangan aktual di lapangan. Selama ini, metode Earned Value Management (EVM) banyak digunakan untuk memantau kinerja biaya dan jadwal, namun pendekatan ini memiliki keterbatasan dalam menggambarkan keterlambatan atau percepatan proyek dalam satuan waktu. Untuk menjawab kekurangan tersebut, Earned Schedule Management (ESM) hadir sebagai metode alternatif yang mengubah indikator jadwal dari berbasis biaya menjadi berbasis waktu. Penelitian ini bertujuan untuk membandingkan akurasi prediksi durasi penyelesaian proyek antara metode EVM dan ESM pada proyek pembangunan gedung perbelanjaan di Kota Malang. Penelitian dilakukan dengan pendekatan kuantitatif dan deskriptif melalui analisis data mingguan progres proyek dari minggu ke-1 hingga ke-20. Indikator utama yang dianalisis meliputi SPI (Schedule Performance Index) dan IEAC (Independent Estimate at Completion), baik dalam bentuk biaya maupun waktu. Hasil analisis menunjukkan bahwa metode ESM lebih akurat dalam memperkirakan durasi penyelesaian proyek. Pada minggu ke-19, nilai SPI(t) sebesar 1,530 menghasilkan estimasi waktu penyelesaian proyek sekitar 197 hari, atau 103 hari lebih cepat dari rencana awal 300 hari. Sementara itu, EVM menunjukkan kecepatan progres, tetapi kurang sensitif terhadap pergeseran waktu aktual. Dengan demikian, ESM direkomendasikan sebagai pendekatan yang lebih efektif dalam memantau dan meramalkan jadwal proyek konstruksi secara dinamis dan realistis.
Copyrights © 2025