Aktivitas keagamaan di Minangkabau memperlihatkan percampuran antara agama dan tradisi. Istilah basapa merupakan tradisi tahunan masyarakat Minangkabau, khususnya Padang Pariaman Sumatera Barat, untuk mengenang jasa penyebar agama Islam, Syekh Burhanuddin di Ulakan. Aktivitas basapa di Ulakan yaitu ziarah ke makam syekh, berdoa bersama sebagai penghormatan kepada syekh. Pendidikan di surau Nagari Taeh Baruah memiliki aktivitas basapa ke Gunung Bungsu. Di bukit Gunung Bungsu, tidak terdapat makam, aktivitas anak-anak surau yaitu mengaji bersama, mengadakan perlombaan, dan makan bersama. Penelitian ini bertujuan menjelaskan pendidikan di surau melalui aktivitas Basapa ke Puncak Gunung Bungsu di Nagari Taeh Baruah Kecamatan Payakumbuh Kabupaten Limapuluh Kota. Penelitian ini dianalisis menggunakan teori konstruktivisme sosial oleh Lev Vigotsky. Aktivitas Basapa yang dilakukan oleh surau pada anak-anak mengaji berfungsi untuk membentuk kognisi sosial anak-anak. Penelitian ini dilakukan dengan pendekatan kualitatif tipe studi kasus. Teknik pemilihan informan dalam penelitian ini menggunakan teknik purposive sampling. Informan penelitian berjumlah 16 orang, teknik pengumpulan data dilakukan dengan cara observasi partisipasi, wawancara mendalam, dan studi dokumen. Teknik analisis data menggunakan model analisis dari Miles dan Huberman yaitu reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa aktivitas basapa ke Gunung Bungsu yang dilakukan dalam pendidikan surau mendidik anak-anak mengaji dengan cara belajar agama dengan menyenangkan (joyful learning) sambil bertamasya dan berolahraga.
Copyrights © 2025