Kayu sebagai bahan konstruksi menjadi salah satu material yang diminati masyarakat Indonesia. Namun disisi lain, kayu yang merupakan material dari alam semakin berkurang ketersediaannya sehingga perlu dilakukan inovasi dalam pemanfaatan kayu. Salah satunya adalah rekayasa balok laminasi. Balok laminasi merupakan produk rekayasa yang terdiri dari dua atau lebih lapisan kayu untuk meningkatkan kualitas kayu yang dihubungkan dengan perekat atau alat sambung mekanik.Penelitian ini menggunakan kayu sengon digabungkan dengan kayu glugu berdimansi masing-masing kayu 5 cm x 2,5 cm x 76 cm sebanyak 3 tipe benda uji, setiap tipe benda uji terdiri dari 3 buah benda uji. Balok laminasi tipe 1 dengan penghubung geser perekat (BPL), balok laminasi tipe 2 dengan penghubung geser paku (BPP) dan balok laminasi tipe 3 dengan penghubung geser baut (BPB). Benda uji balok laminasi disiapkan sebanyak 9 buah ditambah dengan pengujian kayu utuh sebanyak 6 buah berdimensi 5 cm x 5 cm x 76 cm.Hasil yang diperoleh dari hasil penelitian menunjukan bahwa nilai rata-rata kuat lentur kayu glugu adalah 363,481 kg/cm2 termasuk ke dalam kelas kuat IV (360-500 kg/cm2) dengan rata-rata berat jenis 0,4095 dan nilai rata-rata kuat lentur kayu sengon adalah 251,095 kg/cm2 termasuk ke dalam kelas kuat V (≤ 360 kg/cm2) dengan rata-rata berat jenis 0,2484. Pengujian balok laminasi kayu glugu dan kayu sengon dengan jenis penghubung geser yang berbeda-beda menunjukan hasil kuat lentur (BPL) = 344,760 kg/cm2, (BPP) = 178,369 kg/cm2 dan (BPB) = 200,807 kg/cm2. Balok laminasi dengan penghubung geser perekat (BPL) lebih besar dari pada balok laminasi dengan penghubung geser paku atau baut, ini disebabkan perekat digunakan merata pada permukaan kayu yang dilaminasi dan tidak pada titik-titik seperti pada paku atau baut sehingga efisiensi sambungan dengan perekat mencapai optimum.
Copyrights © 2020