Bangunan bertingkat sebagai salah satu kebutuhan prioritas pada suatu institusi karena semakin berkurangnya lahan dan mahalnya harga tanah . Sehingga hal penting yang harus diperhatikan dalan membuat bangunan bertingkat adalah perilaku dari struktur ketika terjadi gempa dan kapasitas dari elemen struktur yang tersedia untuk menahan beban akibar gempa. Gedung Perkantoran Tiga Lantai di Kabupaten Sleman Yogyakarta dibentuk berdasarkan sistem rangka ruang yang diasumsikan berada pada tanah sedang (SD) dan dianalisis berdasarkan Sistem Rangka Beton Bertulang Pemikul Momen Khususm (SRPMK). Dengan mutu beton,fy = 30 MPa, mutu baja tulangan polos, fy = 235 MPa untuk diameter ≤ 12 mm dan mutu baja tulangan ulir, fy = 390 Mpa untuk diameter >12 mm. Pembebanan yang digunakan mengacu pada PPURG 1983 dan SNI 1726:2019, untuk standar ketahanan gempa mengacu pada SNI:1726:2019, dan kapasitas elemen struktur beton mengacu pada SNI 2847:2019. Berdasarkan analisis Respon Dinamik diperoleh hasil mode 1 nilai faktor translasi UY memberikan yaitu 65,34%, pada mode 2 nilai faktor translasi UX memberikan angka yaitu 65,72%. Pada mode 3 nilai RZ dominan yaitu 73,49%. Beban geser dasar nominal statik ekivalen V untuk bangunan ini, diambil dari nilai terbesar antara 100% V dan Vt. Hasil beban gempa untuk arah x dengan period Tx 0,5360 detik, geser dasar dinamik, Vtx 938,0513 kN dan beban gempa untuk arah y dengan period Ty 0,5415 detik, geser dasar dinamik, Vty 2108,9949 kN. Rasio tulangan maksimum dan minimum (1% sampai 8%) untuk K1, K2 dan K3 berturut-turut 1,19%, 1,19% dan 1,18%.
Copyrights © 2021