Pemaknaan tentang “namun Aku mengasihi Yakub tetapi membenci Esau” dalam Maleakhi 1:2-3 acapkali disalahartikan oleh beberapa orang dengan anggapan bahwa Allah pilih kasih. Artikel ini bertujuan untuk menjawab isu tersebut dengan pertanyaan retorik apakah benar Allah pilih kasih? Ulasan frasa tersebut akan diteliti mulai dari kisah langsungnya tentang Esau dan Yakub hingga konteks Maleakhi. Dengan melakukan penelitian kualitatif deskriptif melalui pendekatan studi pustaka, peneliti menelusuri buku-buku dan artikel jurnal dan secara spesifik menggunakan analisis konteks sejarah dan sastra untuk menjawab isu tersebut. Hasil penelitian menunjukkan bahwa genre kitab Maleakhi adalah nubuat dan konteks ucapan Maleakhi perlu dipahami dengan baik berdasarkan pesan nubuatannya sehingga frasa tersebut adalah bagian dari nubuatan terhadap Edom yang telah berbuat jahat dan melanggar perintah Tuhan bukan menyudutkan Esau secara personal. Pemakaian kata “Yakub” dan “Esau” merupakan gaya sastra majas pars pro toto yang menyebutkan sebagian untuk menunjukkan keseluruhan objeknya. Selain itu kata ‘benci’ dipahami dalam konteks kekejian Tuhan terhadap dosa bukan terhadap pribadi (bdk.Mal. 2:16).
Copyrights © 2025