Neuropati diabetik merupakan komplikasi mikrovaskular yang sering terjadi pada pasien diabetes melitus dan berdampak signifikan terhadap kualitas hidup. Penanganan nyeri neuropatik umumnya menggunakan obat antinyeri, namun efektivitasnya bervariasi antar pasien sehingga diperlukan evaluasi luaran klinis dalam praktik klinik. Penelitian ini mengevaluasi luaran klinis penggunaan obat antinyeri pada pasien neuropati diabetik berdasarkan penurunan skala nyeri. Penelitian ini merupakan studi observasional analitik dengan desain cross-sectional pada 241 pasien rawat jalan di Rumah Sakit X Semarang selama Agustus–Oktober 2024. Data diperoleh secara prospektif dari rekam medis pasien yang memenuhi kriteria inklusi, yaitu terdiagnosis neuropati diabetik, mendapatkan terapi antinyeri, dan memiliki data lengkap mengenai skala nyeri sebelum dan sesudah terapi. Penilaian nyeri menggunakan Visual Analogue Scale (VAS). Luaran dikategorikan baik jika terjadi penurunan ?1 poin dan buruk jika tidak ada perubahan atau nyeri meningkat. Analisis dilakukan secara deskriptif. Mayoritas pasien menunjukkan luaran klinis baik dengan penurunan skor nyeri rata-rata 2,24 poin. Gabapentin merupakan obat antinyeri yang paling banyak diresepkan, terutama dosis 300 mg (73,7%), yang memberikan penurunan nyeri rata-rata 2,25 poin dan luaran baik pada 66% pasien. gabapentin 100 mg digunakan pada 25,1% pasien, dengan penurunan rata-rata 2,21poin dan luaran baik pada 67% pasien. Penggunaan amitriptilin 12,5 mg (0,8%) dan Pregabalin 75 mg (0,4%) sangat terbatas, sehingga efektivitasnya belum dapat dinilai secara signifikan. Terapi antinyeri berbasis gabapentin, khususnya dosis 300 mg, memberikan luaran klinis optimal pada pasien neuropati diabetik. Pemilihan dosis yang tepat dan evaluasi rutin diperlukan untuk mengoptimalkan hasil klinis.
Copyrights © 2025