Tujuan dari penelitian ini adalah untuk melihat realisasi penunjuk atau deiksis yang diaplikasikan dalam buku teks belajar bahasa sunda yang dibuat oleh Dinas Pendidikan Jawa Barat tahun 2014 yang berbasis kurikulum 2013. Deiksis merupakan salah satu bentuk pragmatis yang jika dilihat secara mendalam memiliki implikasi terhadap berbagai hal seperti melihat implikatur dalam percakapan maupun sebagai penunjuk kemampuan metapragmatik seseorang khususnya dalam bentuk teks baik teks yang berupa verbal maupun non-verbal (tulisan). Beberapa penelitian deiksis yang dilakukan oleh Prasetiani (2004), Rahman (2012), Sari, Syahrul & Bakhttarudin (2012) dan Hariyati (2016). Fokus penelitian ini adalah melihat bagaimana deiksis sosial digunakan pada teks pelajaran khususnya teks percakapan yang ada di dalamnya sehingga secara tidak langsung apakah pembelajaran metapragmatis diterapkan secara implisit dalam penulisan buku ajar ini. Sosial deiksis mengacu pada hubungan sosial pada partisipan dalam percakapan ataupun partisipan antara penulis dan pembaca. Acuan teori yang digunakan pada kajian ini adalah Grundy (2008), Fillmore & Lyons (1997) untuk melihat realisasi deiksis sosialnya kemudian didukung oleh teori linguistik fungsional dari Brown & Gilman (1960/1972) dan dimensi tenor dari Poynton (1985) untuk melihat hubungan sosial yang terjadi pada realisasi deiksis sosial tersebut. Hasil yang ditemukan pada kajian ini menunjukan bahwa penggunaan deiksis sosial pada buku ajar masih sangat diperhatikan sehingga dapat disimpulkan bahwa penulis buku masih menggunakan kemampuan metapragmatisnya dalam menuangkan ide-ide khususnya ide pembelajaran teks percakapan dalam bahan ajarnya.Kata Kunci: Deiksis, Sunda, Percakapan, Sosial, Pembelajaran.
Copyrights © 2020