Pembelajaran BIPA yang terintegrasi wisata budaya semakin banyak diterapkan tetapi materi ajar yang tersedia masih bersifat deskriptif dan belum membangun kompetensi interkultural. Di sisi lain, pendekatan naratif seperti storynomics berpotensi menjembatani pemahaman lintas budaya, terutama hubungan budaya Indonesia dan Korea. Tujuan penelitian, yakni mendeskripsikan persepsi mahasiswa BIPA mengenai pemanfaatan wisata berbasis kerajaan sebagai bahan ajar, mengidentifikasi dimensi utama pola respons mahasiswa terhadap implementasi storynomics, dan memetakan pola storynomics Indonesia-Korea Selatan yang dapat diadaptasi sebagai bahan ajar BIPA. Metode penelitian menggunakan pendekatan kualitatif melalui kuesioner, observasi, wawancara, serta melibatkan tujuh mahasiswa Korea Selatan sebagai subjek penelitian. Analisis data melalui statistik deskriptif dan eksplorasi tematik. Hasil penelitian menunjukkan tiga dimensi utama, yakni keterikatan pada narasi kerajaan yang memunculkan makna belajar, preferensi interkultural dibandingkan pendekatan monokultural, dan kebutuhan refleksi kritis atas simbol-simbol budaya. Perbandingan praktik storynomics Korea Selatan dan Indonesia memperlihatkan perbedaan: Korea menekankan digitalisasi dan standardisasi, sedangkan Indonesia menekankan otentisitas dan kedalaman filosofis. Temuan ini mengindikasikan bahwa narasi lintas budaya dapat menjadi dasar pengembangan materi ajar BIPA. Peneltian ini merekomendasikan penyusunan prototipe bahan ajar berbasis storynomics yang menggabungkan dan memetakan unsur budaya kerjaan Indonesia dan Korea untuk pembelajaran. Implikasi ini memberikan arah praktis bagi pengembangan bahan ajar BIPA.
Copyrights © 2026