Penelitian ini mengkaji representasi pesantren dalam salah satu program Trans7 yang menimbulkan kontroversi publik akibat penggambaran yang negatif dan tidak proporsional terhadap lembaga pendidikan Islam tersebut. Dengan menggunakan pendekatan kualitatif kritis dan kerangka teori hegemoni Antonio Gramsci, penelitian ini menganalisis bagaimana media membangun makna, membingkai pesantren dalam narasi sensasional, serta merefleksikan kepentingan ideologis tertentu. Hasil penelitian menunjukkan bahwa program tersebut menempatkan pesantren sebagai institusi problematis melalui seleksi visual, narasi, dan gaya penyajian yang bias. Ideologi media bekerja melalui mekanisme komodifikasi dan sensationalism yang memperkuat hegemoni budaya dengan menormalisasi perspektif modern-sekuler terhadap institusi keagamaan tradisional. Namun demikian, penelitian juga menemukan adanya respons kontra-hegemoni dari komunitas pesantren, organisasi Islam, dan publik digital yang mengkritik, mengklarifikasi, serta membangun narasi tandingan. Ruang digital berperan penting sebagai arena resistensi dan negosiasi ulang identitas. Secara keseluruhan, penelitian ini menegaskan bahwa representasi pesantren dalam media arus utama merupakan arena kontestasi makna yang dipengaruhi oleh relasi kekuasaan, ideologi, dan partisipasi publik.
Copyrights © 2025