Cerita rakyat Bawang Putih Bawang Merah merupakan salah satu dongeng Melayu yang paling populer di Indonesia dan memiliki fungsi penting dalam pembentukan nilai moral masyarakat. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis struktur psikoanalitik dan moralitas dalam cerita Bawang Putih Bawang Merah dengan menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif. Analisis dilakukan terhadap beberapa versi teks cerita rakyat tersebut, baik dalam bentuk cetak maupun versi digital, dengan berlandaskan teori psikoanalisis Sigmund Freud dan Carl Jung. Hasil penelitian menunjukkan bahwa konflik antara tokoh Bawang Putih dan Bawang Merah mencerminkan dinamika keluarga yang kompleks, termasuk kecemburuan, proyeksi, dan ketimpangan kasih sayang dalam hubungan ibu tiri dan anak tiri. Figur Bawang Putih merepresentasikan arketipe anak suci‖ yang sabar dan jujur, sedangkan Bawang Merah dan ibu tirinya menggambarkan bayangan (shadow) yang mewakili sifat- sifat negatif manusia seperti iri dan tamak. Dari aspek moralitas, cerita ini menegaskan pentingnya nilai kejujuran, kesabaran, kerja keras, dan keadilan sebagai landasan kehidupan sosial. Selain itu, penelitian menemukan bahwa adaptasi modern dari cerita ini di era digital mengalami pergeseran makna, di mana karakter dan pesan moralnya dimodifikasi untuk menyesuaikan dengan nilai-nilai masyarakat kontemporer. Kesimpulannya, Bawang Putih Bawang Merah tidak hanya berfungsi sebagai hiburan, tetapi juga sebagai cermin psikologis dan alat pendidikan moral yang tetap relevan di berbagai zaman.
Copyrights © 2025