Penilaian sikap siswa dalam rapor sering kali dibebankan kepada guru Bimbingan dan Konseling (BK). Praktik ini menimbulkan kontroversi karena guru BK tidak terlibat langsung dalam seluruh proses pembelajaran siswa. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji relevansi, kelemahan, serta dampak penugasan penilaian sikap secara tunggal kepada guru BK. Metode penelitian yang digunakan adalah studi kepustakaan dengan mengkaji regulasi, artikel ilmiah, dan temuan empiris terkait praktik penilaian sikap. Hasil analisis menunjukkan bahwa penilaian sikap oleh guru BK secara tunggal tidak tepat secara fungsi maupun beban kerja, sehingga diperlukan model penilaian kolaboratif yang lebih objektif dan selaras dengan tugas pokok layanan BK.
Copyrights © 2025