Penelitian ini mengkaji peran kereta api sebagai moda transportasi wisata di Sumatra Barat pada masa kolonial akhir (1928–1930). Awalnya dibangun untuk mendukung distribusi hasil tambang, sistem perkeretaapian kemudian bertransformasi menjadi sarana pariwisata, khususnya bagi wisatawan Eropa yang tertarik dengan keindahan alam daerah tersebut. Dengan menggunakan metode sejarah kualitatif—yang mencakup tahap heuristik, kritik sumber, interpretasi, dan historiografi—penelitian ini memanfaatkan arsip kolonial Belanda, surat kabar, dokumentasi visual, dan laporan resmi pemerintah Hindia Belanda, serta sumber sekunder berupa buku, jurnal, dan artikel ilmiah. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemerintah kolonial secara aktif mempromosikan Sumatra Barat sebagai destinasi wisata eksotis melalui perluasan jalur kereta api menuju lokasi-lokasi populer seperti Fort de Kock, Ngarai Anai, dan Lembah Harau. Strategi promosi dilakukan melalui media cetak, panduan wisata, serta pembangunan fasilitas pendukung seperti hotel dan gerbong kereta kelas satu. Studi ini menegaskan bahwa pembangunan kereta api kolonial tidak hanya berfungsi untuk kepentingan ekonomi, tetapi juga menjadi penggerak utama dalam pembentukan industri pariwisata di Sumatra Barat.
Copyrights © 2026